(0274) 4469199 iop@unisayogya.ac.id

YOGYAKARTA – Nuansa internasional begitu terasa di kawasan Malioboro pada Sabtu pagi, 2 Mei 2026. Program “Setu Sinau” yang diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta kali ini tampil istimewa dengan kehadiran para mahasiswa asing dari Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta.

Partisipasi mahasiswa dari UNISA Yogyakarta ini menjadi bukti nyata kolaborasi antara dunia akademik dan pemerintah dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif. Di tengah hiruk-pikuk wisatawan, para mahasiswa internasional ini terjun langsung sebagai pendamping dan “rekan belajar” bagi warga lokal serta pengunjung yang ingin mengenal lebih dalam tradisi Yogyakarta.

Jembatan Budaya Mahasiswa Kesehatan
Meski sebagian besar mahasiswa asing di UNISA Yogyakarta menekuni bidang kesehatan, semangat mereka dalam mempelajari dan membagikan nilai budaya lokal sangat tinggi. Kehadiran mereka di sisi timur Malioboro memberikan perspektif baru bahwa budaya adalah elemen penting dalam kesejahteraan sosial dan persahabatan antarmanusia.

“Kami sangat bangga melihat mahasiswa internasional kami bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat melalui cara yang sangat humanis. Di sini, mereka tidak hanya belajar tentang sejarah, tapi juga membangun koneksi emosional dengan ‘jiwa’ Yogyakarta,” ungkap salah satu pendamping dari International Office UNISA Yogyakarta.

Momen Hangat di Ruang Publik
Sepanjang acara, para mahasiswa asing ini terlibat aktif dalam berbagai kelas budaya (street workshop), di antaranya:

  • Keakraban dalam Sinau Aksara: Mahasiswa UNISA bersama anak-anak lokal saling bertukar cerita sambil mempraktikkan penulisan aksara Jawa.
  • Harmoni dalam Gamelan: Suasana cair tercipta saat para mahasiswa internasional mencoba memukul saron dan bonang, menciptakan melodi persahabatan yang melintasi batas kewarganegaraan.
  • Canda Tawa Dolanan Anak: Gelak tawa pecah saat mereka mencoba permainan tradisional, menunjukkan bahwa kegembiraan masa kecil adalah bahasa yang universal.

Inisiatif strategis Pemerintah Kota Yogyakarta ini, yang dikoordinasikan bersama Bappeda Kota Yogyakarta, semakin mengukuhkan Malioboro bukan sekadar destinasi belanja, melainkan ruang belajar yang ramah bagi siapa saja. Kehadiran mahasiswa UNISA Yogyakarta telah menambahkan warna kemanusiaan yang mendalam, membuktikan bahwa Yogyakarta tetap menjadi rumah yang hangat bagi dunia.